Silakan menempatkan Iklan Anda disini

Kamis, 24 Desember 2009

SINDROM METABOLIK

SINDROM METABOLIK


Dr. Heru Wiyono, SpPD

Sindrom Metabolik adalah sekelompok faktor resiko terkait dengan kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas, yang dapat meningkatkan resiko terkena penyakit jantung dan penyakit lain seperti diabetes dan stroke. Arti Metabolik disini berarti proses biokimiawi, sedangkan faktor resiko adalah gaya hidup atau kondisi yang meningkatkan resiko terkena penyakit.

Di Amerika Serikat, terdapat 47 juta penderita Sindrom Metabolik (sekitar 25%), dan angka ini cenderung bertambah. Peningkatan ini terkait dengan bertambahnya obesitas di masyarakat. Diperkirakan di masa depan Sindrom Metabolik akan menjadi masalah kesehatan utama, melebihi kebiasaan merokok sebagai faktor resiko utama penyakit jantung.

Terdapat lima kondisi yang menjadi faktor resiko. Seorang penderita dapat terkena satu atau lebih faktor resiko tersebut. Diagnosis Sindrom Metabolik ditegakkan bila terdapat paling sedikit tiga faktor resiko:

· Lingkar perut yang besar. Disebut juga abdominal obesity atau disebut apple shape.

· Kadar Trigliserida dalam darah yang lebih tinggi dari normal (>150 mg/dL). Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak dalam darah.

· Kadar HDL (High Density Lypoprotein) yang lebih rendah dari normal. HDL disebut kolesterol “baik” karena peningkatan HDL dikaitkan dengan penurunan resiko. HDL pada pria sebaiknya diatas 40 mg/dL sedangkan pada wanita sebaiknya diatas 50 mg/dL terutama pada wanita pasca menopause

· Tekanan darah yang lebih tinggi dari normal (130/85 mmHg). Tekanan darah selalu dalam dua nominal, misal 120/80 mmHg. Angka pertama, disebut sistolik, mengukur tekanan dalam sirkulasi saat detak jantung. Angka kedua menunjukkan besar tekanan dalam sirkulasi antara detak jantung pada waktu jantung mengalami relaksasi

· Kadar gula darah puasa yang lebih tinggi dari normal, lebih dari 100 mg/dL (5.6 mmol/L). Kadar gula darah yang sedikit meningkat dapat menjadi penanda awal diabetes

Semakin banyak terdapat faktor resiko semakin besar resiko terkena penyakit jantung, diabetes atau stroke. Penderita Sindrom Metabolik memiliki resiko 2 kali lebih besar untuk terkena penyakit jantung dan 5 kali lebih besar untuk terkena diabetes.

Faktor resiko lain juga tidak dapat dikesampingkan, kadar LDL (low-density lipoprotein cholesterol) sering disebut kolesterol “jahat” dan merokok juga menjadi faktor resiko penyakit jantung walaupun tidak termasuk komponen sindroma metabolic. Bahkan adanya satu faktor resiko saja meningkatkan resiko penyakit jantung, dan setiap faktor resiko harus diberikan penatalaksanaan yang tepat.

Kemungkinan terkena Sindrom Metabolik terkait dengan kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas dan kurangnya aktivitas fisik. Penyebab lain adalah kondisi yang disebut “resistensi insulin”, yaitu kondisi tubuh yang tidak dapat memanfaatkan insulin dengan efektif. Insulin, yang bermanfaat memasukkan glukosa kedalam sel tubuh, membantu merubah gula darah menjadi energi. Resistensi insulin dapat mengakibatkan kenaikan kadar gula darah dan terkait erat dengan kelebihan berat badan dan obesitas.

Kegemukan (obesitas) merupakan keadaan berlebihnya lemak tubuh secara absolut maupun relatif. Kelebihan lemak tubuh umumnya mengakibatkan peningkatan berat badan dan indeks massa tubuh (IMT). Perhitungan IMT adalah berat badan dalam kg dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter, atau BB (kg)/(TB (m))2. IMT kurang dari 18,5 dinyatakan kurang. IMT antara 19-25 berarti berat badan sehat atau normal, IMT antara 25-30 berarti kelebihan berat badan (overweight), IMT antara 30-30 Obesity" shapes="_x0000_s1028" align="left" width="196" height="124" hspace="12">40 disebut obesitas, dan IMT 40 atau lebih berarti obesitas yang berbahaya.

Disebut kegemukan bila lingkar pinggangnya di atas 90 cm. Indikator ini untuk pria Indonesia. Pria Eropa dinyatakan gemuk bila lingkar pinggangnya 102 cm. Indikator gemuk untuk wanita Indonesia bila lingkar pinggangnya melebihi 80 cm.

Penetapan angka 90 cm bagi pria Indonesia karena pada batas angka tersebut, telah ditemukan berbagai risiko penyakit degeneratif, misalnya kadar gula darah melebihi batas normal

Beragam cara dapat digunakan untuk mencegah Sindrom Metabolik, termasuk meningkatkan aktivitas fisik (Olah Raga!!), secara praktis dapat berupa jalan kaki sekitar 30 menit per hari, dan mengonsumsi diet dengan jumlah kalori dikurangi, terutama yang rendah serat dan gula.

Terapi lini pertama adalah merubah gaya hidup (mengurangi jumlah kalori dan meningkatkan aktivitas fisik). Terkadang terapi medikamentosa dengan obat juga diperlukan. Diuretika dan ACE inhibitor digunakan untuk terapi hipertensi, Obat untuk menurunkan kolesterol kita pakai untuk menurunkan kolesterol LDL dan kadar Trigliserida, dan meningkatkan HDL.

Dalam penelitian tahun 2003 didapatkan olah raga dapat membantu pada 31% penderita, menurunkan kadar Trigliserida pada 43% penderita. Hasil beragam penelitian lain juga menunjukkan manfaat peningkatan aktivitas fisik dan mengurangi asupan kalori untuk terapi Sindroma Metabolik.

Genetik (riwayat keturunan) dan umur lanjut juga menjadi penyakit yang mendasari Sindrom Metabolik. Apakah ini berarti Sindrom Metabolik tidak dapat dicegah? Sama sekali tidak! Kita dapat mencegah Sindrom Metabolik terutama dengan merubah gaya hidup. Perubahan gaya hidup adalah suatu komitmen seumur hidup bukan Cuma seumur jagung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mencoba menyajikan Informasi mengenai penyakit dalam secara mudah dan gamblang sehingga mudah untuk dipahami